MUNAJAT CINTA
Oleh: Indra Fitriadi
Berbicara mengenai beban hidup yang dialami, hampir semua kita pernah merasa hidup ini begitu berat, ujian datang silih berganti, tanggung jawab menumpuk dan terkadang terbesit pertanyaan dalam hati, “Ya Allah, sanggupkah hamba memikul semua ini?”
Islam adalah agama yang memperhatikan kemampuan nyata setiap individu, bukan agama yang menuntut hal-hal di luar batas kewajaran. Kesalahan yang terjadi karena lupa atau tidak sengaja memiliki kedudukan berbeda dengan pelanggaran yang disengaja, dan Allah membuka pintu ampunan untuknya.
Perlu diketahui bahwa ada satu ayat dalam al-Qur’an yang begitu agung menjawab keresahan itu semua, yaitu surat al-Baqarah ayat 286. Ayat tersebut bukan hanya sekadar penutup dari surat terpanjang dalam al-Qur’an melainkan ia adalah surat cinta Allah kepada hamba-hamba-Nya. Ayat ini begitu istimewa, sehingga banyak ulama menyebutnya sebagai salah satu ayat yang paling sering dibaca umat Islam, terutama di malam hari, karena kandungannya yang menenangkan hati dan berisi rangkaian doa yang mustajab.

Secara garis besar, ayat ini mengandung makna bahwa Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai kesanggupannya. Setiap orang akan menerima balasan dari kebaikan yang ia usahakan, dan menanggung akibat dari keburukan yang ia perbuat. Kemudian disusul rangkaian doa yang memohon agar tidak dihukum karena lupa atau khilaf, memohon agar tidak dibebani dengan beban berat, seperti umat-umat sebelumnya, memohon agar tidak dipikulkan sesuatu yang di luar kemampuan, memohon ampunan dan rahmat, serta memohon pertolongan atas orang- orang yang ingkar.
Dalam sebuah riwayat yang disampaikan Abu Hurairah RA, para sahabat sempat merasa gelisah ketika ayat sebelumnya (Al-Baqarah: 284) turun. Ayat itu menjelaskan bahwa Allah akan memperhitungkan segala sesuatu, baik yang tampak dari perbuatan maupun yang tersimpan di dalam hati. Para sahabat merasa khawatir karena isi hati sering kali sulit dikendalikan sepenuhnya. Akhirnya mereka mengadu kepada Rasulullah ﷺ bahwa mereka merasa dibebani sesuatu yang berat. Rasulullah kemudian mengingatkan agar mereka tidak bersikap seperti Bani Israil yang pernah berkata “kami dengar tetapi kami tidak taat“, melainkan hendaknya mengucapkan “kami dengar dan kami taat“. Tidak lama setelah itu, turunlah ayat 286 sebagai jawaban yang menenangkan: Allah tidak akan membebani seseorang di luar batas kesanggupannya.
Maksud ayat ini dapat dianalogikan dengan seorang ayah yang memiliki dua anak, satu berusia 5 tahun dan satu lagi 20 tahun. Apakah sang ayah akan memberi beban pekerjaan yang sama kepada keduanya? Tentu tidak, karena sang ayah memahami kemampuan anak-anaknya. Itulah gambaran dari kasih sayang. Maka dari itu, bagaimana dengan Allah, Yang Maha Mengenal hamba-Nya lebih dari hamba itu mengenal dirinya sendiri. Ketika Allah memberi ujian, bukan karena Allah ingin menyiksa kita, melainkan Allah tahu kita mampu menanggungnya. Inilah wajah mahabbah sesungguhnya, yakni cinta yang mengenal dan memahami.
Adapun untaian do’a yang menyebut kata “rabbana” tiga kali bukan merupakan do’a orang yang takut, namun do’a orang yang rindu yang diucapkan dengan penuh kelembutan, seperti seorang anak yang merajuk manja pada orang tuanya atau seorang kekasih yang merayu manja kekasihnya. Dalam tradisi ulama Sufi, seperti Imam Al-Qusyairi dalam kitabnya menyebutkan bahwa do’a semacam ini dipahami sebagai munajat cinta, yang mana semakin dekat hati seorang hamba dengan Allah, semakin ia berani mengadu dan meminta dengan penuh harap. Mahabbah melahirkan keberanian untuk dekat, bukan ketakutan untuk menjauh.
Pada penghujung ayat Allah menutup dengan puncak dari mahabbah itu sendiri, yaitu pengakuan total bahwa tidak ada tempat bersandar selain Allah Swt. Artinya, jabatan, harta dan manusia manapun tidak dapat dijadikan sebagai pelindung dari segala malapetaka dan mara bahaya. Semoga hati kita senantiasa istiqomah dekat dengan Allah Swt, sehingga menjadikan kita berani dalam bermunajat kepada Allah Swt, aamiin.
