You are here:
E-mail Cetak PDF

UPACARA HARI PAHLAWAN

DI PENGADILAN AGAMA WONOSOBO

 

Pengadilan Agama Wonosobo pada hari Jum’at tanggal 10 Nopember 2017 menyelenggarakan upacara hari Pahlawan. dengan Inspektur upacara Ketua Pengadilan Agama Wonosobo Drs. Muh. Zainuddin SH. MH.

Upacara peringatan hari Pahlawan ini diikuti oleh seluruh karyawan dan karyawati Pengadilan Agama Wonosobo mulai dari Hakim sampai pegawai Honorer dan beberapa siswa yang sedang melakukan PPL di Pengadilan Agama Wonosobo. Upacara dilaksanakan dengan penuh hikmat dibuktikan dengan pakaian yang digunakan oleh para peserta, para Hakim  menggunakan pakaian PSL (Pakaian Seragam Lengkap) dan para pegawai lainnya dengan menggunakan pakaian seragam harian.


Upacara dimulai tepat pukul 07.00 WIB. dengan Komandan upacara Komar SH. setelah memberikan penghormatan kepada Pembina Upacara selanjutnya komandan yang merupakan juru sita di Pengadilan Agama Wonosobo tersebut melaporkan kesiapan barisan untuk mengikuti upacara hari lahir Pahlawan yang ke 72;.


Kemudian dilakukan mengheningkan cipta yang dipimpin oleh Inspektur Upacara dan dilanjutkan dengan Pembacaan Teks Pancasila serta Pembacaan Pembukaan Undang-undang Dasar 1945 yang dibacakan oleh Furqonika Alvin S.Kom..


Upacara dilanjutkan dengan Amanat Pembina Upacara yang dalam kesempatan tersebut menyampaikan Keputusan Presiden yang berkaitan dengan Penganugerahan gelar Pahlawan Nasional belia menyampaikan ada 4 tokoh yang mendapatkan gelar Pahlawan yang pertama : Almarhum TGKH. Muhammad Zainudin Abdul Madjid tokoh dari Nusa Tenggara Barat, kedua Almarhumah Malahayati serorang tokoh dari Propinsi Aceh ketiga Almarhum Sultan Mahmud Riayat Syah, tokoh dari Propinsi Riau serta yang keempat Almarhum Prof. Drs. H. Lafran Pane dari Propinsi D.I. Yogyakarta.


Bagi Ketua Pengadilan Agama yang berasal dari NTT ini mengatakan, peringatan hari Pahlawan tahun ini baginya sangat berkesan karena dari empat tokoh yang diberi gelar Pahlawan oleh Presiden dua orang diantaranya pernah bertemu secara langsung.

Almarhum TGKH. Muhammad Zainudin Abdul Madjid adalah seorang tokoh yang masih mempunyai hubungan kekerabatan dengannya dan pernah belajar kepada beliau saat masih kecil dan yang kedua Almarhum Prof. Drs. H. Lafran Pane adalah staf Pengajar di IAIN Sunan Kalijaga dimana mantan wakil Ketua Pengadilan Agama Blitar ini pernah belajar. Sosok dari Almarhum ini adalah seorang yang sangat sederhana bahkan saat berangkat untuk memberikan kuliah beliau tidak bersedia untuk dijemput menggunakan mobil, tapi beliau ke kampus dengan menggenjot sepedanya.

Untuk memberikan semangat kepada karyawan dan karyawati pegawai Pengadilan Agama Wonosobo Inspektur Upacara berkesempatan membacakan pesan-pesan perjuangan dari pahlawan Nasional agar dapat dijadikan sebagai pemicu didalam kita bekerja.

Pertama beliau menyampaikan pesan Nyi Ageng Serang seorang tokoh perempuan yang merupakan isteri dari Pangeran Diponegoro. Pada saat mendengarkan keluhan serta keprihatinan para pengikut Pangeran Diponegoro akibat perlakuan kaum penjajah saat itu, beliau berpesan :” Untuk keamanan dan kesentausaan jiwa, kita harus mendekatkan diri kepada Tuhan Yang maha Esa, orang yang mendekatkan dari kepada Tuhan tidak akan terperosok hidupnya, dan tidak akan takut menghadapi cobaan hidup, karena Tuhan akan selalu menuntun dan melimpahkan anugerah yang tidak ternilai harganya.

 Yang kedua adalah pesan yang disampaikan oleh Panglima Besar Jenderal Sudirman yang disampaikan pada jam-jam terakhir sebelum jatuhnya Yogyakarta dan Jenderal Sudirman saat itu sedang sakit, ketika menjawab pernyataan Presiden yang menasehatinya supaya tetap tinggal di kota untuk dirawat sakitnya, namun beliau menjawab : Sudirman bisa sakit tapi panglima tidak pernah sakit, tempat saya yang terbaik adalah di tengah-tengah anak buah. Saya akan meneruskan perjuangan. Met of zonder Pemerintah TNI akan berjuang terus.

Dari pesan dua pahlawan ini diharapkan kita dapat mengambil pelajaran betapapun hebatnya kekuatan kita punyai namun tetap harus bersandar dan mendekatkan diri kepada Allah yang maha kuasa, karena Dialah yang mengatur semua gerak-gerik kita. Dan kitapun dapat mengambil pelajaran yang kedua yakni jangat kita berputus asa didalam melakukan suatu kebaikan meskipun taruhannya adalah nyawa kita.

Setelah amanat tersebut disampaikan upacara dilanjutkan dengan pembacaan doa yang disampaikan oleh Drs. Rahmat Farid SH.MH. (lap.ariefhumas pa wsb).