You are here:
E-mail Cetak PDF

MENCEGAH PERKAWINAN USIA DINI 

Hari Selasa tanggal  7 Nopember 2017 Pemerintah Kabupaten Wonosobo menyelenggarakan Rapat Koordinasi RANHAM (Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia) yang berlangsung di Ruang Rapat KRT Mangoen Koesoemo Setda Kabupaten Wonosobo.


Hadir dalam acara tersebut Staf Ahli Bupati, Kabag Hukum Setrda Kabupaten Wonosobo, Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Wonosobo, Organisasi wanita baik dari Kecamatan di Kabupaten Wonosobo, Kelurahan serta dari Dinas terkait lainnya serta Kantor Urusan Agama.


Acara dibuka oleh Staf Ahli Bupati yang dalam sambutannya beliau menyampaikan bahwa salah satu tujuan kegiatan ini agar dapat meningkatkan penghormatan, pemajuan, pemenuhan perlindungan dan penegakan HAM. Lebih lanjut beliau mengungkapkan salah satu yang dapat kita jadikan tauladan dalam penegakan HAM adalah Rasulullah saw. Dimana beliau sangat menjungjung harkat dan martabat kaum wanita.


Dalam acara tersebut bertindak selaku nara sumber adalah Drs. H. Arif Mustaqim MH. Hakim Pengadilan Agama Wonosobo yang saat itu membawakan materi Pernikahan dini. Dalam kesempatan tersebut beliau mengungkapkan ada beberapa faktor yang mendorong terjadinya perkawinan dalam usia dini khususnya di Kabupaten Wonosobo adalah sebagai berikut :

    1. Ekonomi

Perkawinan usia muda terjadi karena keadaan keluarga yang hidup di garis kemiskinan, untuk meringankan beban orang tuanya maka anak wanitanya dikawinkan dengan orang yang dianggap mampu. 

2. Pendidikan

Rendahnya tingkat pendidikan maupun pengetahuan orang tua, anak dan masyarakat baik umum maupun agama, menyebabkan adanya kecenderungan mengawinkan anaknya yang masih dibawah umur.

3. Faktor orang tua

Orang tua khawatir kena aib karena anak perempuannya berpacaran dengan laki-laki yang sangat lengket sehingga segera mengawinkan anaknya.

4 . Media massa

Gencarnya ekspose seks di media massa menyebabkan remaja modern kian   Permisif terhadap seks.

5.  Faktor adat dan budaya

Perkawinan usia muda terjadi karena orang tuanya takut anaknya dikatakan perawan tua sehingga segera dikawinkan, dan yang cukup miris adalah ada satu anggapan kalau anaknya telah dilamar maka orang tuanya sudah tidak melarang lagi anaknya tidur bersama calon pasangannya yang mengakibatkan munculnya faktor ke

6.Perkawinan karena kecelakaan (hamil terlebih dahulu).

Untuk yang terakhir ini adalah yang paling banyak ditangani oleh Pengadilan Agama Wonosobo.

Lebih lanjut Nara sumber mengatakan untuk mengatasi hal tersebut ada beberapa hal yang perlu dilakukan agar dapat menekan terjadinya pernikahan dini di Kabupaten Wonosobo

  1. Perlu dilakukan penyuluhan hukum secara terpadu kepada masyarakat sampai ke tingkat desa dan kelurahan khususnya mengenai batas usia perkawinan;
  2. Peran serta para ulama dan tokoh masyarakat perlu ditingkatkan, khususnya di dalam pemahaman agama.
  3. Peran serta orang tua agar anak menjauhi pergaulan negative, apalagi anak di bawah umur.
  4. Penertiban warnet-warnet ;
  5. Meningkatkan intervensi perlindungan anak perempuan 15 -17 tahun dengan fokus utama penyelesaian sekolah menengah.

Walaupun demikian dari sisi kwantitas atau jumlah perkara permohonan dispensasi kawin yang masuk ke Pengadilan Agama Wonosobo dalam kurun waktu tiga tahun terakhir ini mengalami penurunan yang cukup signifikan.


Dalam kesempatan yang sama juga disampaikan materi “Pencegahan Kekerasan dalam Rumah tangga dengan nara sumber Nur Aini Ariswari A.Md. beliau mengungkapkan ada beberapa upaya dalam rangka pencegahan dan penanganan kasus kekerasan terhadap kaum perempuan antara lain adalah :

  1. Melakukan pendidikan keadilan gender dimasyarakat dengan melibatkan tokoh agama, tokoh masyarakat dan tokoh politik;
  2. Kanseling pra nikah
  3. Memberikan pendampingan baik secara medis, hukum psikologis dan spiritual kepada korban
  4. Melakukan mediasi dengan korban

Tepat pukul 13.00 WIB acara ditutup dengan terlebih dahulu disampaikan sambutan sekaligus harapan-harapan yang disampaikan oleh Ketua Pembina PKK Kabupaten Wonosobo. (lap.ariefhumas pa.wsb)