You are here:
E-mail Cetak PDF

Badilag akan Bikin PA Percontohan

Jakarta l Badilag.net

Ditjen Badilag diminta menyiapkan beberapa pengadilan tingkat pertama di lingkungan peradilan agama yang akan menjadi pengadilan percontohan. Permintaan itu disampaikan Biro Perencanaan Mahkamah Agung pekan lalu.

“Kita diminta menyiapkan pengadilan-pengadilan percontohan pada tahun 2012 ini,” kata Kasubbag Perencanaan Program dan Penyusunan Anggaran Sutarno, dalam rapat Ditjen Badilag, Senin (2/4/2012).

Permintaan ini disambut positif Dirjen Badilag Wahyu Widiana. Ia setuju peradilan agama memiliki beberapa pengadilan yang menjadi role model. “Saya setuju. Itu ide bagus,” ungkapnya.

Sebelum menetapkan pengadilan mana saja yang menjadi percontohan, yang akan dilakukan Badilag adalah membikin pedoman sebagai acuan, menyusun tahapannya dan menetapkan jumlahnya.

Disepakati, secara umum pengadilan yang ditunjuk sebagai percontohan harus memenuhi berbagai kriteria, mulai dari administrasi perkara, administrasi umum, pengelolaan SDM, pelayanan publik, pemanfaatan teknologi informasi hingga penataan ruang.

Karena pembahasan soal ini masih sangat awal, sejauh ini tahapan penentuan pengadilan percontohan belum disusun. Selain itu, juga belum diputuskan, apakah pengadilan-pengadilan percontohan itu akan dipilih berdasarkan penilaian atau langsung ditunjuk.

Sementara itu, soal jumlah, kemungkinan besar akan dipilih 10 pengadilan percontohan. Ke-10 pengadilan itu tersebar di pulau Jawa dan luar Jawa.

Dilihat dari klasifikasinya, pengadilan-pengadilan yang akan dijadikan percontohan itu terdiri dari kelas I dan kelas II.

Tata ruang sangat penting

Dirjen Badilag mengatakan, tata ruang gedung pengadilan perlu menjadi perhatian tersendiri. Menurutnya, pengadilan percontohan harus memiliki area steril yang tidak memungkinkan aparat peradilan dan masyarakat pencari keadilan berbaur.

Karena itu, yang akan menjadi pengadilan percontohan bukan hanya pengadilan yang memiliki gedung baru. Pengadilan bergedung lama, asalkan memiliki area steril dan fasilitas pelayanan publiknya tertata dengan baik, juga memiliki kesempatan untuk dipilih menjadi pengadilan percontohan.

“Ada pengadilan yang gedungnya bagus tapi pintu masuk masyarakat dan pegawai tidak dibedakan. Masyarakat yang berperkara juga dibiarkan ke mana-mana. Pengadilan percontohan tidak begitu,” tandasnya.

(hermansyah)

LAST_UPDATED2
E-mail Cetak PDF

Orang Amerika pun Terkesan pada SIADPA

Jakarta l Badilag.net

“Wonderful!” Itulah respon spontan Markus Zimmer saat mendengar cerita Dirjen Badilag Wahyu Widiana mengenai geliat penggunaan SIADPA di peradilan agama. Pendiri International Association For Court Administration (IACA) itu menemui Dirjen Badilag bersama Direktur Proyek Change for Justice (C4J) David Anderson dan beberapa rekannya, Kamis (8/3/2012).

Salah satu agenda pertemuan itu adalah membicarakan pertemuan tingkat tinggi yang bakal digelar Mahkamah Agung bekerjasama dengan C4J pekan depan. Pertemuan tingkat tinggi yang berlangsung di Jakarta itu akan membahas sistem informasi perkara, di mana Dirjen Badilag menjadi salah satu pembicara utama.

“SIADPA adalah Sistem Informasi Administrasi Perkara Peradilan Agama. Jadi, SIADPA merupakan case management system yang kami pakai,” ujar Dirjen Badilag.

Markus Zimmer (duduk ke-2 dari kanan) bersama koleganya berpose di Laboratorium SIADPA.

Dirjen menambahkan, aplikasi SIADPA telah terinstall di semua pengadilan di lingkungan peradilan agama. “Hanya, sejauh ini belum seluruh pengadilan agama memanfaatkannya secara optimal,” bebernya.

Zimmer pun penasaran. “Anda memakai software apa? Apakah Anda mengembangkan sendiri?” ujarnya.

Dirjen Badilag menjelaskan, awalnya SIADPA disediakan oleh vendor, tapi kini telah dikembangkan sendiri oleh Badilag dengan melibatkan para pakar SIADPA dari sejumlah pengadilan agama di daerah. Versi mutakhir SIADPA bernama SIADPA Plus.

Berbagai upaya dilakukan Ditjen Badilag untuk menggairahkan pemanfaatan SIADPA. Selain mengadakan pelbagai pelatihan kepada para administrator SIADPA, Badilag juga membentuk Tim Nasional SIADPA yang para anggotanya merupakan pakar-pakar SIADPA, baik dari sisi teknologi maupun sisi hukum. Tim ini bertugas mengembangkan aplikasi SIADPA serta menjadi tutor bila ada pelatihan-pelatihan SIADPA di daerah.

Selain itu, Dirjen mengungkapkan, saat ini bermunculan komunitas dan forum diskusi di situs jejaring sosial yang membahas pelbagai hal seputar SIADPA. Untuk memotivasi penggunaan SIADPA, Ditjen Badilag juga akan menggelar perlombaan bertitel “Religious Court Case Management System Awards”.

“Belum lama ini kami juga me-launching Laboratorium SIADPA,” Dirjen Badilag menambahkan. Laboratorium ini didesain sesuai alur penerimaan dan penyelesaian administrasi perkara di pengadilan agama. Setiap hari ada petugas yang berjaga.

“Di laboratorium ini kami melayani berbagai keluhan dan permasahan SIADPA. Konsultasi dilakukan via chatting,” kata Dirjen.

Para tamu berkewarganegaraan Amerika Serikat ini lantas diajak melihat langsung laboratorium yang terletak di lantai 7 Gedung Sekretariat Mahkamah Agung itu.

Irwansyah, personil dari Badilag yang sehari-hari menggawangi Laboratorium SIADPA, menjadi guide. Pejabat eselon IV ini menjelaskan fungsi laboratorium ini sekaligus menjawab beberapa pertanyaan yang diajukan rombongan Markus Zimmer.

“Orang-orang dari daerah bisa belajar SIADPA di sini. Jika ingin belajar alur penanganan perkara di pengadilan agama, para mahasiswa juga bisa ke sini,” tutur Irwansyah.

Mendengar penjelasan itu, Zimmer dan rekan-rekannya tertegun. “Kalian punya sense of belonging (rasa memiliki) yang tinggi,” komentar salah seorang rekan Zimmer, mengungkapkan kekagumannya.

(hermansyah)

LAST_UPDATED2
E-mail Cetak PDF

Bismillah, Badilag Launching Laboratorium SIADPA

Jakarta l Badilag.net

Inovasi demi inovasi terus dihadirkan Ditjen Badilag. Kemarin (28/2/2012), Ditjen Badilag meluncurkan Laboratorium SIADPA/SIADPTA Plus.

“Ini adalah soft launching. Beberapa bulan ke depan, kalau seluruh PA sudah memanfaatkan SIADPA Plus, kita akan lakukan grand launching,” tutur Dirjen Badilag Wahyu Widiana, sebelum menggunting pita sebagai pertanda diresmikannya laboratorium ini.

Acara peresmian yang digelar di Gedung Sekretariat Mahkamah Agung RI, Jalan Ahmad Yani Jakarta, dihadiri seluruh ketua Mahkamah Syar’iyah Aceh/Pengadilan Tinggi Agama dan para pejabat dan karyawan Badilag.

Berada di lantai tujuh Gedung Sekretariat MA, Laboratorium SIADPA dibangun untuk menjadi tempat belajar, mengembangkan aplikasi, sekaligus sarana monitoring dan konsultasi berbagai hal yang berkaitan dengan SIADPA.

Gagasan membikin laboratorium ini mulai muncul bersamaan dengan ihtiar Badilag mengembangkan SIADPA Plus tahun lalu. Sebagaimana diketahui, SIADPA Plus merupakan otomatisasi pola Bindalmin. Berbagai blanko di SIADPA versi lama distandarkan dan pelbagai aplikasi pendukung dibikin dan disempurnakan. Untuk menyukseskannya, Tim Nasional SIADPA pun dibentuk.

Dengan demikian, yang berperan penting dalam pembangunan Laboratorium SIADPA bukan hanya Ditjen Badilag, tapi juga anggota Timnas SIADPA dan sejumlah administrator SIADPA dari PA-PA di wilayah Jabodetabek, khususnya mereka yang tergabung dalam Mekkadilaga yang dibentuk PTA Jakarta.

“Laboratorium SIADPA ini satu-satunya di dunia. Hanya peradilan agama yang punya,” kata Dirjen Badilag.

Dirjen menambahkan, laboratorium ini tidak berdiri sendiri di Badilag, tapi terhubung dengan seluruh pengadilan di lingkungan peradilan agama di Indonesia. “Karena itu perhatian Bapak/Ibu di daerah sangat-sangat diperlukan,” tuturnya.

Karena terhubung, data perkara dari satker-satker di daerah dapat otomatis masuk ke sini, tanpa perlu dikirim lewat surat. “Tentu itu bisa dilakukan bila SIADPA di daerah berjalan baik,” kata Dirjen.

Ada petugas jaga

Laboratorium SIADPA dibuat dengan mengacu kondisi riil di lapangan. Di dalamnya terdapat fasilitas SIADPA untuk Meja Informasi, Meja I, Meja II, Meja III, Kasir, Panitera Pengganti, Juru Sita Pengganti, Panitera/Sekretaris, hingga Ketua PA.

“Setiap hari akan ada petugas yang berada di laboratorium ini,” ungkap Direktur Pembinaan Administrasi Peradilan Agama Sayyed Usman.

Sudah ada beberapa ahli SIADPA yang dipersiapkan menjadi petugas Laboratorium SIADPA. Setiap hari, tiga orang dari mereka akan menggawangi laboratorium ini. Dua berasal dari Ditjen Badilag dan satu berasal dari PA-PA di wilayah Jabodetabek.

“Di antara tugas mereka adalah melakukan supporting online,”  Sayyed Usman membeberkan.

Yang dimaksud supporting online ialah membantu memecahkan masalah yang dihadapi administrator dan pengguna SIADPA di daerah dengan cara online. Metode yang dipakai ialah chatting atau berdiskusi menggunakan situs jejaring sosial sebagaimana selama ini telah dipraktikkan di Forum Laskar SIADPA.

“Dengan demikian, laboratorium ini sangat bermanfaat,” tandasnya.

Bisa dipakai untuk pengawasan

Tohir, salah satu ujung tombak Timnas SIADPA, menjelaskan bahwa Laboratorium SIADPA sangat berguna untuk memonitor penanganan perkara. Berbagai kejanggalan dalam penanganan perkara dapat terdeteksi dengan mudah.

“Misalnya perkara yang lebih dari enam bulan, perkara yang sudah putus tapi belum diminutasi, sisa panjar yang belum dikirim ke kas negara, dan lain-lain,” ujar Tohir.

Para Ketua PTA/MSy Aceh tampak antusias menyimak paparan itu. Sebagai kawal depan MA yang melakukan pembinaan dan pengawasan di daerah, para pimpinan dan hakim tinggi PTA/MSy Aceh memang dituntut untuk mengetahui perkembangan, fungsi dan manfaat SIADPA.

(hermansyah)

LAST_UPDATED2

JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL